Suara Ustadz Farhan yang biasanya lembut dan penuh nasehat, sore itu terdengar lebih tinggi dari biasanya. Di ruang madrasah yang sederhana, dengan dinding bercat putih yang sedikit mengelupas dan lantainya yang bersih mengkilap, seorang murid bernama Ahmad menundukkan kepalanya dalam-dalam. Di hadapannya, Ustadz Farhan berdiri dengan tatapan yang tidak marah, namun sarat akan kekecewaan.
"Ahmad, kenapa kamu tidak datang mengaji kemarin sore?" tanya Ustadz Farhan dengan nada yang berusaha ditenangkan.
Ahmad masih menunduk, jari-jemarinya saling bertaut gelisah. Ia tahu, bolos mengaji tanpa alasan yang jelas adalah kesalahan besar. Apalagi, Ustadz Farhan selalu menekankan pentingnya menuntut ilmu agama sejak usia dini.
"Ma-maaf, Ustadz," jawab Ahmad lirih, hampir tak terdengar.
Ustadz Farhan menghela napas pelan. Ia mendekat dan berjongkok di hadapan Ahmad, mensejajarkan tingginya dengan murid kesayangannya itu. Ditatapnya wajah Ahmad yang tampak menyesal.
"Ustadz tahu kamu anak yang pintar, Ahmad. Kamu cepat mengerti pelajaran dan selalu bersemangat saat belajar Al-Quran. Lalu, kenapa kemarin kamu tidak datang? Apa ada halangan?"
Ahmad memberanikan diri mendongak. "Kemarin... kemarin saya diajak teman-teman bermain layangan di lapangan, Ustadz. Kami lupa waktu..."
Ustadz Farhan terdiam sejenak. Ia tidak langsung memarahi Ahmad. Beliau mengerti, di usia anak-anak, bermain dan bersenang-senang adalah hal yang wajar. Namun, beliau juga ingin menanamkan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab pada murid-muridnya.
"Bermain itu boleh, Ahmad. Itu hak kamu sebagai anak-anak. Tapi, ingatlah ada waktu untuk bermain dan ada waktu untuk belajar. Mengaji ini bukan hanya sekadar kewajiban, tapi juga bekal untuk masa depanmu, bekal untuk di akhirat nanti. Setiap huruf Al-Quran yang kamu pelajari, insya Allah akan menjadi penerang jalanmu."
Ustadz Farhan kemudian melanjutkan dengan suara yang lebih lembut, "Tahukah kamu, Ahmad, betapa sedihnya Ustadz saat melihat bangku kamu kosong kemarin? Ustadz khawatir kamu kenapa-napa. Ustadz juga khawatir kamu ketinggalan pelajaran."
Mata Ahmad mulai berkaca-kaca. Ia baru menyadari betapa khawatirnya Ustadz Farhan padanya. Ia juga menyesal telah lebih memilih bermain daripada menimba ilmu agama.
"Maafkan saya, Ustadz," ucap Ahmad dengan suara tercekat. "Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Saya akan lebih bertanggung jawab dengan waktu saya."
Ustadz Farhan tersenyum tulus. Dielusnya kepala Ahmad dengan sayang. "Alhamdulillah. Ustadz percaya padamu, Ahmad. Ingatlah, menuntut ilmu itu seperti kita sedang berjalan menuju pintu surga. Jangan sampai kita berbelok arah hanya karena kesenangan sesaat."
Sore itu, Ahmad tidak hanya mendapatkan teguran, tapi juga pelajaran berharga tentang pentingnya memprioritaskan ilmu agama dan menghargai waktu. Ia berjanji dalam hati, teguran lembut Ustadz Farhan akan selalu ia ingat sebagai pengingat untuk selalu berjalan lurus di jalan kebaikan. Di balik pintu surga yang diimpikan, ada kedisiplinan dan tanggung jawab yang harus dipenuhi sejak dini.

0 Komentar