Kopi Pahit di Penghujung Senja


Di sebuah beranda kayu yang reyot, dengan cat yang mulai mengelupas termakan usia, Kakek Mardi duduk termangu. Secangkir kopi hitam mengepul di hadapannya, pahit tanpa gula, seperti getirnya pikiran yang sedang menyerbu benaknya. Mata tuanya menerawang jauh, melampaui kebun singkong di depan rumahnya yang sederhana, menembus awan-awan senja yang mulai jingga.

Bukan dinginnya sore atau sepinya beranda yang membuat Kakek Mardi terpekur. Pikirannya dipenuhi satu nama: Risa, cucu semata wayangnya. Risa adalah cahaya di hari tua Kakek Mardi. Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia bertahun-tahun lalu, Kakek Mardi lah yang membesarkan Risa dengan segala keterbatasan. Risa gadis pintar, pekerja keras, dan kini ia sudah kelas tiga SMA. Sebentar lagi ujian, dan setelah itu, impiannya adalah melanjutkan kuliah.

Namun, impian itu terasa begitu jauh, bagai bintang yang tak terjangkau. Biaya. Kata itu bagai beban berat yang menindih dada Kakek Mardi. Uang hasil panen singkong dan sedikit upah dari menjadi buruh serabutan di sawah tetangga, hanya cukup untuk makan sehari-hari dan kebutuhan sekolah Risa yang mendasar. Untuk biaya pendaftaran kuliah, apalagi uang semesteran, rasanya mustahil.

Kakek Mardi menyesap kopinya perlahan, merasakan pahitnya menelusuri kerongkongan. Ia teringat janji-janji pada mendiang anaknya, orang tua Risa, untuk selalu menjaga dan memastikan Risa mendapatkan pendidikan terbaik. Hatinya perih. Ia merasa tak mampu, seolah-olah ia telah gagal.

"Bagaimana caranya, Gusti?" bisiknya lirih. Ia sudah mencoba meminjam ke sana kemari, namun semua pintu seolah tertutup. Tenaganya sudah tak sekuat dulu untuk bekerja lebih keras lagi. Tubuhnya seringkali ngilu, lututnya gemetar saat berdiri terlalu lama.

Tiba-tiba, suara riang Risa memecah keheningan. "Kakek, sudah magrib! Ayo masuk!"

Kakek Mardi tersentak dari lamunannya. Ia melihat Risa berdiri di ambang pintu, senyumnya secerah mentari pagi, tidak sedikit pun terlihat beban di wajahnya. Melihat senyum itu, sebuah kekuatan aneh merambat di hati Kakek Mardi. Ia tak boleh menyerah. Demi Risa, ia harus mencari jalan.

Ia menatap cangkir kopi di tangannya. Pahit, ya, pahit. Tapi setelah pahit itu, pasti akan ada manisnya jika ia terus berjuang. Mungkin bukan hari ini atau besok, tapi Kakek Mardi tahu, ia akan mengerahkan seluruh sisa tenaganya, semua akalnya, demi masa depan cucu kesayangannya. Kopi pahit di senja itu menjadi pengingat, bahwa perjuangan belum usai.


Posting Komentar

0 Komentar