Terjebak di Antara Harapan dan Impian: Kisah Ica, Seniman di Balik Jurusan yang Salah



Di salah satu sudut kampus megah Universitas Ibn Khaldun Bogor, Ica melangkah dengan gontai. Bukan karena lelah usai mengikuti perkuliahan, melainkan karena jiwanya terasa hampa. Ia adalah mahasiswa Teknologi Pendidikan semester dua. Setiap kali dosen menjelaskan tentang kurikulum, metode pembelajaran daring, atau pengembangan media ajar, pikirannya melayang jauh. Jauh, ke garis-garis presisi, ke detail bangunan impian, ke dunia arsitektur yang selalu ia dambakan.

Ica adalah seorang seniman sejati sejak kecil. Tangannya lincah menciptakan sketsa-sketsa menakjubkan dari bangunan ikonik, pikirannya kaya akan ide-ide kreatif untuk mendesain ruang. Dinding kamarnya penuh dengan gambar-gambar denah rumah impian dan ilustrasi perspektif yang ia buat sendiri. Ia bermimpi besar: menjadi seorang arsitek terkenal, merancang bangunan yang tak hanya fungsional tetapi juga artistik, atau bahkan menjadi seorang desainer interior yang mengubah setiap ruangan menjadi mahakarya. Namun, impian itu bagai terkurung dalam sangkar emas.

"Jadi arsitek? Mau makan apa kamu, Nak? Persaingan ketat sekali," Suara berat ayahnya masih terngiang jelas di telinganya. "Lihat tetangga kita, jadi guru PNS, masa depannya terjamin. Pendidikan itu mulia, Ca." Ibunya menambahkan, "Kuliah di Teknologi Pendidikan itu bagus, Ica. Orang tua mana yang tidak bangga punya anak guru?"

Bagi Ica, kata-kata itu adalah pukulan telak. Ia tahu orang tuanya menyayanginya, menginginkan yang terbaik untuknya. Namun, "terbaik" versi mereka adalah sebuah jalur yang sama sekali berbeda dengan apa yang ia inginkan. Impiannya untuk masuk jurusan Arsitektur kandas. Demi kebahagiaan dan kebanggaan kedua orang tuanya, Ica akhirnya menyerah. Ia mendaftar di jurusan Teknologi Pendidikan, meskipun hatinya menolak dan ia tahu ini bukan bidang yang ia minati.

Setiap mata kuliah terasa seperti beban. Otaknya dipaksa untuk memahami teori-teori pendidikan yang rumit, sementara hatinya menjerit ingin mendesain. Tugas-tugas kuliah dikerjakannya dengan setengah hati, hanya sekadar memenuhi kewajiban. Ia merasa seperti robot, menjalani rutinitas tanpa semangat. Di kampus, ia melihat teman-temannya berdiskusi dengan antusias tentang inovasi pembelajaran, sementara ia hanya bisa menghela napas, membayangkan struktur bangunan yang bisa ia ciptakan.

Yang paling menyakitkan bagi Ica adalah ketika ia mencoba menunjukkan karya seninya – sketsa bangunan atau desain interior – kepada orang tuanya. Ia mengerjakan itu dengan sepenuh hati, dengan detail yang rumit. Mereka hanya melihatnya sekilas. "Bagus, Ca. Tapi kan itu cuma hobi," kata ayahnya, lalu kembali sibuk dengan korannya. "Yang penting kuliah Teknologi Pendidikanmu lancar, ya," tambah ibunya. Kreativitas dan bakat seninya, yang begitu berharga baginya, terasa tidak dihargai, dianggap hanya buang-buang waktu.

Di balik layar laptopnya, Ica sering diam-diam membuka aplikasi desain arsitektur atau menonton tutorial sketsa bangunan daring. Itu adalah satu-satunya pelipur lara, satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri. Ia tahu, ia tidak bisa serta merta berhenti kuliah. Ada harapan orang tua yang harus ia jaga, ada tanggung jawab yang ia pikul. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia bertekad. Setelah ia menyelesaikan kewajibannya, setelah ia memenuhi harapan orang tuanya, ia akan mencari jalannya sendiri. Ia akan membuktikan bahwa kreativitas seorang ahli seni juga memiliki nilai, memiliki masa depan, dan bisa membawa kebahagiaan yang tak kalah berharganya dari sebuah gelar pendidikan.

Kisah Ica adalah cerminan banyak anak muda yang berada di persimpangan jalan antara aspirasi pribadi dan ekspektasi keluarga. Ini adalah tentang perjuangan menemukan suara sendiri, bahkan ketika suara itu dibungkam oleh tradisi dan keinginan orang lain.

Posting Komentar

0 Komentar