Layangan Putus dan Luka di Tangan



Langit sore di atas perkampungan itu dihiasi dengan warna-warni layangan yang beterbangan ditiup angin sepoi-sepoi. Di sebuah lapangan luas, tampak seorang anak laki-laki kecil dengan wajah riang gembira. Ia adalah Dika, bocah penggemar berat layangan. Sore itu, layangan kesayangannya yang berwarna merah dan kuning menjulang tinggi di angkasa.

Dika dengan lincah menarik dan mengulur benang layangannya, sesekali tertawa senang saat layangannya menari-nari di udara. Ia begitu asyik hingga tak menyadari seorang anak lain dengan layangan yang lebih besar mendekat. Anak itu, bernama Reno, terkenal dengan benang gelasan super tajamnya.

Tanpa sengaja, benang layangan Reno menyilang dengan benang layangan Dika. Seketika, terjadi adu benang yang sengit. Dika berusaha keras mempertahankan layangannya, namun benang gelasan Reno terlalu kuat. Dalam sekejap, benang layangan Dika putus, dan layangannya melayang jauh tertiup angin.

Dika terdiam sejenak, menatap layangannya yang semakin mengecil di angkasa. Rasa kecewa menyeruak di hatinya. Namun, belum sempat ia sepenuhnya meratapi layangannya yang hilang, ia merasakan perih yang luar biasa di tangannya.

Ia melihat telapak tangannya. Ada goresan panjang berwarna merah. Benang gelasan Reno yang putus tadi, saat melayang tak terkendali, mengenai tangannya dengan keras. Luka itu terasa panas dan mengeluarkan darah.

Dika meringis kesakitan sambil memegangi tangannya. Reno, yang menyadari kejadian itu, hanya menatap sekilas tanpa ekspresi dan kemudian berlari mengejar layangannya yang juga ikut melayang jauh.

Air mata mulai menggenang di mata Dika. Bukan hanya karena layangannya yang hilang, tapi juga karena rasa perih di tangannya dan sikap acuh tak acuh Reno. Seorang bapak yang sedang melintas melihat Dika kesakitan dan segera menghampirinya.

"Nak, kamu kenapa? Terkena benang gelasan ya?" tanya bapak itu dengan nada khawatir.

Dika mengangguk sambil terisak. Bapak itu kemudian membantu Dika membersihkan lukanya dengan air dari botol minumnya dan menyarankan Dika untuk segera pulang dan diobati dengan benar.

Dengan langkah gontai dan hati yang sedih, Dika berjalan pulang sambil memegangi tangannya yang terluka. Sore itu, ia bukan hanya kehilangan layangan kesayangannya, tapi juga mendapatkan pelajaran yang menyakitkan tentang bahaya benang gelasan yang tajam. Sejak saat itu, Dika menjadi lebih berhati-hati saat bermain layangan dan selalu waspada terhadap benang-benang tajam yang bisa membahayakan dirinya dan orang lain. Hobi yang tadinya menyenangkan, kini meninggalkan bekas luka yang akan selalu mengingatkannya untuk lebih bijak dalam bermain.


Posting Komentar

0 Komentar