Gerobak Cilok di Senja Kelabu



Senja mulai merayap di langit Bogor, mewarnai awan dengan gradasi jingga dan ungu. Di salah satu sudut jalan yang agak sepi, tampak seorang laki-laki paruh baya mendorong gerobak ciloknya. Pak Jono, begitu biasanya ia disapa, sudah berjualan cilok keliling sejak belasan tahun lalu. Rasa ciloknya yang gurih dan bumbu kacangnya yang pedas manis sudah dikenal banyak orang.

Peluh membasahi dahi Pak Jono, meskipun udara malam mulai terasa sejuk. Hari ini, dagangannya tidak terlalu ramai. Ia hanya bisa menghela napas, berharap masih ada rezeki di beberapa jam ke depan. Uang hasil jualan cilok inilah yang menjadi tumpuan hidupnya dan keluarga kecilnya.

Saat sedang mendorong gerobaknya melewati jalan yang agak gelap dan jarang dilalui, tiba-tiba dua orang pengendara motor berhenti tepat di depannya. Mereka berjaket tebal dan memakai helm tertutup, membuat wajah mereka tak terlihat jelas. Jantung Pak Jono mulai berdegup kencang, firasat buruk mulai menghantuinya.

Salah seorang dari pengendara itu turun dari motor dan menghampiri Pak Jono dengan langkah mengancam. "Woi, Pak Tua! Serahin semua uang hasil jualanmu!" bentaknya dengan suara kasar.

Pak Jono terkejut dan ketakutan. Ia berusaha bersikap tenang. "Ma-maaf, Mas... saya hanya penjual cilok kecil... uang saya tidak banyak..."

"Jangan banyak omong! Cepat serahkan!" bentak orang itu lagi sambil menunjuk-nunjuk Pak Jono. Orang yang satunya lagi tetap berada di atas motor, siap siaga.

Dengan tangan gemetar, Pak Jono merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang lusuh hasil jualannya hari ini. Jumlahnya memang tidak seberapa, tapi itu adalah hasil kerja kerasnya dari pagi hingga sore.

Namun, rupanya para pelaku begal itu tidak puas dengan uang yang diberikan Pak Jono. "Mana lagi?! Jangan bohong kamu!" bentak salah seorang dari mereka sambil mendorong Pak Jono hingga hampir terjatuh.

Pak Jono semakin ketakutan. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tenaganya sudah tidak sekuat dulu untuk melawan. Ia hanya bisa pasrah saat kedua pelaku itu menggeledah gerobak ciloknya, mencari barang berharga lainnya. Mereka mengambil dompet usang Pak Jono yang berisi beberapa puluh ribu rupiah dan juga telepon genggamnya yang sudahModel lama.

Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, kedua pelaku begal itu dengan cepat kembali ke motor mereka dan melaju kencang, meninggalkan Pak Jono yang terduduk lemas di pinggir jalan.

Air mata Pak Jono menetes. Bukan hanya karena uang dan telepon genggamnya yang hilang, tapi juga karena rasa sakit hati dan ketidakberdayaan yang ia rasakan. Ia tidak menyangka di usia senjanya, ia harus mengalami kejadian nahas seperti ini.

Beberapa saat kemudian, seorang warga yang melintas melihat Pak Jono dalam keadaan linglung. Setelah mendengar cerita pilu Pak Jono, warga tersebut segera membantunya berdiri dan mengantarkannya pulang.

Malam itu, Pak Jono hanya bisa terbaring lesu di rumahnya. Tubuhnya terasa sakit, namun hatinya lebih sakit lagi. Ia bertanya-tanya, mengapa orang sejahat itu tega merampas rezeki orang kecil sepertinya. Meski begitu, dalam hatinya yang terdalam, Pak Jono tetap berharap keadilan akan ditegakkan dan ia bisa kembali berjualan dengan aman, mencari rezeki halal untuk keluarganya. Kejadian malam itu menjadi pelajaran pahit, sebuah noda kelabu di senja kehidupannya sebagai seorang penjual cilok.


Posting Komentar

0 Komentar